Tuhan Saja di bohongin, apalagi Rakyat

Tulisan ini boleh dikatakan berkaitan dengan pilkada. pilkada tak serentak 2015 telah mengantarkan telah mengantar para calon menjadi 7 gubernur dan 209 Bupati walikota periode 2016-2021. Menunggu pilkada serentak Gubernur Bupati walikota tahap II Tahun 2017.

Ada beberapa catatan menarik dari beberapa pilkada tahap I :
  1. Demi meraih simpati masyarakat, sang calon harus menjadikan agama sebagai alat.
  2. Demi meraih simpati masyarakat, sang calon harus membuat janji yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan
  3. Demi Meraih simpati masyarakat, sang calon membuat janji yang bakal tidak bisa dipenuhinya.

Dan mungkin ini 3 besar poin yang sering dilakukan sang calon beserta tim-timnya selain pemberian, hadiah dan kegiatan sosial.

Pada saat ini kita coba lihat poin satu saja, karena poin dua dan tiga biasanya otomatis dilakukan jika poin satunya dilakukan. Oleh karenanya mungkin kita tidak terlalu berharap akan dipenuhi janji kedua dan ketiganya jika yang pertama dilakukannya.

Kog bisa diambil kesimpulan seperti itu ?

Karena ada ungkapan, Kalau Tuhan saja dibohongin apalagi negaranya. Kalau tuhan saja dibohongin apalagi rakyatnya.
Tuhan Saja di bohongin, apalagi Rakyat

Agak sulit melihat kapan agama hanya digunakan sebagai alat dalam pelaksanaan pilkada? Kapan agama hanya digunakan untuk meraih simpati rakyat pilkada? Kapan agama hanya digunakan untuk meraih suara rakyat dalam pilkada?

Kita coba berikan beberapa indikator untuk melihat bahwa agama tidak dijadikan hanya sebagai alat untuk pilkada.
  1. Agama tentu berhubungan dengan Sang Maha Pencipta. Oleh karenanya coba lihat kira-kira benarkah niat nya hanya untuk TuhanNya ketika sang calon mengeluarkan ucapan, melakukan kegiatan yang berkaitan dengan agama. Silahkan ukur sendiri keikhlasan sang calon ?
  2. Adakah pamrih yang diminta ketika dia melakukan sesuatu yang brekaitan dengan agama atau kepercayaan?
  3. Biasanya kegiatan yang berkaitan dengan agama dilakukan tanpa melibatkan publikasi yang berlebihan?

Mungkin 3 poin sebelumnya hanya sekedar memberi gambaran garis besar, calon-calon yang menggunakan agama hanya sebagai alat untuk pilkada. Silahkan untuk menambahkannya?

Berdasarkan pengamatan pilkada yang baru lalu, agama digunakan sebagai alat telah dikemas lebih rapi sehingga masyarakat tidak mengetahui dan tidak menjadi sebagai tolok ukur untuk menentukan pilihan di kotak suara?
Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah. contact : Sosmed Indonesia afdoli
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar