Strategi Memenangkan Pilkada Lawan Incumbent

Strategi Memenangkan Pilkada Lawan Incumbent

Anda yang mengikuti perkembangan Pilkada dibeberapa daerah tentu mengetahui para incumbent atau petahana dapat kembali menguasai panggung Pilkada 2015. Hal ini juga telah diungkapkan dalam surat terbuka revisi UU Pilkada yaitu bagaimana kedigdayaan para incumbent atau petahana di masing-masing daerah pada Pilkada 2015. Dari posisi kepuasan publik dan penerimaan masyarakat yang rendah tetap, para incumbent tetap mampu memenangkan pertarungan pilkada.

Sebagai incumbent, calon gubernur/ bupati/ Walikota yang sedang menjabat tentu lebih mudah mengkonsolidasikan kembali kekuatan untuk dapat memenangkan pilkada. Secara popularitas dan elektabilitas tentunya seorang incumbent tentu masih jauh lebih baik dari para penantangnya. Hal ini tidak lain karena seorang incumbent dapat memaksimal kekuatan yang dimilikinya bagi pribadinya yang dapat dipoles dengan APBD, birokrasi, jaringan pengusaha plus pencitraan dan dilengkapi dengan kekuatan partai, relawan dan tim sukses.

Jika dalam sebuah pilkada ada incumbent atau petahana yang bertanding, apakah sang penantang sudah mempersiapkan diri?

Secara umum saya menggambarkan ada 3 kekuatan atau three of Power (TOP) yang harus di miliki oleh seseorang untuk dapat memenangkan pilkada adalah

1. Kekuatan Pengusung yaitu mesin Partai, relawan dan tim sukses

2. Kekuatan Pendukung seperti finansial, jaringan, koneksi dan media

3. Kekuatan Pribadi calon yang dapat kita sebut sebagai faktor x

Ketiga kekuatan ini tentunya harus mampu bersinergi sehingga dapat memenangkan pilkada. Masalah mana yang paling penting tergantung strategi yang dimainkan saja. Jika lemah di kekuatan pengusung tentunya harus mampu memaksimalkan kekuatan pendukung dan faktor x calon. 

Disamping itu bisa saja sang calon Gubernur/ Bupati/walikota memenangkan pilkada hanya dengan modal satu kekuatan. Contoh seperti kekuatan pendukung, tentunya kekuatan pendukung ini yang harus dipertajam dengan sambil menutupi kekuatan pengusung dan kekuatan pribadi. Demikian juga jika hanya kekuatan Pribadi yang dominan, maka strategi bagaimana menyebarkan faktor x sang calon sehingga memunculkan kekuatan pendukung dan pengusung.

Dan terakhir, ketika berbicara politik tentu tidak tidak lepas dari konsep hitungan matematika. Dimana negatif kali negatif hasilnya positif. Dimana dapat diterjemahkan bahwa kelemahan seorang kandidat tidak selamanya itu menjadi kelemahan. Justeru kelemahan juga bisa dipoles menjadi sebuah kekuatan.

Semoga tulisan singkat ini dapat berguna bagi para kandidat untuk mengukur diri menjelang pilkada. Apakah kita merasa bahwa ada peluang yang dapat kita lakukan untuk memenangkan pertarungan pilkada. Apalagi ketika harus berhadapan dengan dengan seorang incumbent atau petahana yang mempunyai kekuatan lebih komplit. Apalagi untuk menghadapi incumbent Jakarta tentunya nuasanya lebih kompleks. Insya Allah Tulisan selanjutnya bagaimana strategi memenangkan pilkada Jakarta 2017
 info terkait :
Share on Google Plus

About Afdoli ApMsi

Bukan Siapa-siapa, Bisa Jadi Siapa Saja, Untuk Siapa Saja. Simalungun BangKIT (berkemBang dengan Kreatif penuh Inovatif menjadi Terbaik) menuju Indonesia Baru Afdol melalui Cara Indonesia Bangkit dengan Sahabat Indonesia berubah. contact : Sosmed Indonesia afdoli
Komentar facebook
0 Komentar blog

0 komentar :

Posting Komentar